Saya bukan orang yang
baru saja menggunakan jilbab. Sejak SMA kelas 10, saya sudah menggunakan
jilbab. Alhamdulillah, jilbab yang saya kenakan sudah rapi dan menutup dada.
Maklum, teman-teman gaul saya anak rohis. Mentok-mentok teman gaul yang emang
gaul yah anak2 klub bahasa inggris. Hehehe. Back to jilbab! Meskipun sudah
menggunakan jilbab sejak lama, manfaat yang saya rasakan hingga saat ini masih
sangat terasa. Pengalaman yang masih segar diingatan saya terjadi kemarin
malam.
Jadi, ba’da magrib saya
keluar dari kos. Saya punya penyakit maag dan saat ini rutin konsumsi madu
pahit untuk mengurangi gejala maag. Kebetulan malam itu madu pahit habis. Terpaksalah
saya mencari toko obat herbal untuk membeli madu pahit tersebut, sekalian
membeli makan malam.
Pengalaman yang menarik
adalah saat saya pulang dari toko obat herbal, ternyata bensin motor hampir
habis. Mampirlah saya ke penjual bensin, eh, pertamax/pertalite eceran. Posisi warungnya
memang dipinggir jalan. Penjual menyusun botol berisi cairan biru dengan rapi. Saya
langsung memesan 1 botol pertalite.
“Pak, beli 1 !” ucapku.
“ya,” dengan sigap beliau
mengambil 1 botol pertalite dan menuangkannya ke dalam tangki motorku. Lalu
beliau menutup tangki motor agar cairan tersebut tidak menguap.
“Berapa pak?” tanyaku.
“8500, mbak.”
Aku mengeluarkan uang
sepuluhribuan. Bapak penjual langsung menerima uang tersebut, dan masuk kedalam
warung untuk mengambil kembalian. Saya menunggu sebentar. Bapak itu kemudian
mengulurkan tangannya untuk memberi kembalian. Nah, herannya, bapak ini sangat
menjaga diri saat mengulurkan tangannya. Bapak ini berusaha tidak menyentuh
saya saat memberikan kembalian, padahal semua uangnya receh yang kecil kecil.
Saya merasa terharu. Alhamdulillah, di zaman yang sudah semakin tua ini, di
saat batasan pergaulan antara adam dan hawa terkadang ditembus seenaknya oleh
mereka yang tak mengerti atau tak mau mengerti, masih ada orang seperti Bapak
penjual bensin : menghargai wanita. Mungkin ini sepele bagi teman-teman, tapi
tidak bagi saya. Why? Because of my hijab. Cara beliau menjaga sentuhan
merupakan bentuk dari pengakuan akan fungsi jilbab yang saya kenakan. Hijab,
yang menutupi aurat berguna menjaga kecantikan wanita. Dengan demikian, wanita
berhijab tidak akan dinilai dari tampak luarnya saja, tapi dari identitasnya
sebagai muslimah. Dengan berjilbab dengan rapih, tidak ketat, tidak transparan,
menutup dada, menyamarkan lekuk tubuh dengan sempurna, membuat orang lain
terutama laki-laki menghargai muslimah melalui kepribadiannya. Mereka akan
berinteraksi bukan karena fisik kita yang indah, melainkan karena kecerdasan,
kepribadian, sikap dan akhlak yang muslimah tampilkan. Inilah yang membuat saya
makin mantap untuk menjaga jilbab saya.
Untuk para wanita, sebagai sesama wanita saya ingin mengatakan : kita sendirilah
yang memegang kunci “keberhargaan” diri kita. Jangan salahkan laki laki jika
saat kita keluar mereka menggoda kita, karena ternyata pakaian kita belum
menutupi bagian yang harus ditutupi. Kitalah yang harus mencegah hal tersebut. Bagi
muslimah, perintah menutup aurat itu wajib bagi yang sudah baligh : sudah haid.
Percayalah, dengan menutup aurat kita akan lebih terjaga. Nah, setelah itu
jangan lupa mengingatkan saudara muslim kita untuk menjada pandangannya. Bukankah
islam adil? Wanita diperintahkan menutup auratnya, dan laki-laki diperintahkan
menjaga pandangan, adil bukan?
Tulisan tersebut sebenarnya saya tujukan untuk diri saya sendiri. Saya
ingin menyempurnakan jilbab yang saya kenakan. Saat ini, jilbab yang saya
kenakan sudah cukup panjang. Saya juga menggunakan gamis setiap hari, sayangnya
menurut saya masih terlalu berwarna. Saya ingin mengubah konsep jilbab saya,
menjadi warna yang sederhana, polos, tapi tetap rapih. Sayangnya semua itu
butuh dana yang tidak sedikit. Doakan saya memperoleh rejeki sehingga bisa
mewujudkan niatan baik itu ya, menyederhanakan jilbab.
Semoga bermanfaat!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar